Tips Bagi Ibu Hamil Untuk Menjalani Penerbangan

Berikut adalah tips yang dapat membuat penerbangan menjadi lebih nyaman dan aman bagi ibu hamil :

  1. Minumlah air dalam jumlah yang cukup. Tingkat kelembaban dalam kabin pesawat dapat membuat dehidrasi, sehingga mengentalkan darah. Bawalah selalu air minum kemanapun Anda pergi dan minumlah sesering mungkin saat berada di pesawat.
  2. Gunakan stoking. Beberapa dokter atau bidan merekomendasikan ibu hamil menggunakan stocking atau legging untuk meningkatkan peredaran darah. Legging dan stoking juga berguna untuk mencegah pembekuan darah yang dimulai dari kaki.
  3. Gunakan pakaian yang longgar, jangan yang ketat.
  4. Jangan menyilangkan kaki selama perjalanan agar aliran darah lebih lancar dan tidak merasa pegal.
  5. Minta tempat duduk yang longgar (sebaiknya di sisi yang dekat dengan lorong kabin / aisle seat). Hindari tempat duduk di tengah, karena paling sempit dan membuat pergerakan terbatas. Selain itu juga sebagai antisipasi jika ibu hamil sewaktu-waktu perlu ke toilet karena merasa mual.
  6. Tiap jam, usahakan berjalan sebentar di lorong kabin (bila lampu mengenakan seatbelt dipadamkan), dan tiap setengah jam lemaskan kaki, putar pergelangan kaki, dan gerakkan jari-jari kaki. Gerakan ini penting untuk memastikan aliran darah lancar dan mengurangi risiko terbentuk gumpalan darah.
  7. Saat duduk, gunakan sabuk pengaman selama penerbangan karena turbulensi sulit diprediksi. Guncangan akan membuat tubuh dan rahim berguncang. Untuk wanita hamil, risiko cedera karena menggunakan sabuk pengaman dinilai lebih ringan daripada risiko cedera yang dapat terjadi bila tidak mengenakannya. Tempatkan sabuk pengaman pada posisi yang paling nyaman, dapat diletakkan serendah-rendahnya di bawah daerah panggul atau di sekitar tungkai bawah bagian atas.
  8. Jangan calzoncillos boxer baratos mengonsumsi makanan mengandung gas. Tidak disarankan menyantap makanan atau minuman yang mengandung gas (kol, brokoli, atau minuman bersoda) selama melakukan perrjalanan udara. Gas yang terperangkap dalam tubuh akan mendapat tekanan udara sehingga menyebabkan sakit perut dan mual.
  9. Cegah mabuk udara. Jika Anda masih sering merasakan morning sick selama kehamilan, perjalanan udara tidak direkomendasikan. Tanyakan kepada dokter atau bidan dan mintalah obat anti mual.
  10. Secara umum, usia 4-7 bulan merupakan usia kehamilan yang ideal untuk melakukan penerbangan, tentunya dengan kondisi kehamilan yang sehat dan tidak bermasalah. Usia kehamilan terbaik untuk melakukan perjalanan udara adalah selama kehamilan trimester kedua sebelum usia kehamilan 35 minggu (untuk penerbangan internasional) atau sebelum usia kehamilan 36 minggu (untuk penerbangan domestik). Hal ini dilakukan mengingat terdapat peningkatan risiko terjadinya keguguran pada ibu hamil trimester pertama dan risiko kelahiran dalam pesawat pada ibu hamil trimester ketiga.
  11. Sebaiknya mendiskusikan penerbangan Anda dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan Anda untuk memastikan kondisi Anda dan mendiskusikan kapan sebaiknya Anda melakukan penerbangan.
  12. Hindari perjalanan udara yang lama dan terlalu sering terkait peningkatan risiko keguguran pada ibu hamil dengan jam penerbangan rata-rata 74 jam selama satu bulannya.
  13. Hindari bepergian ke daerah-daerah endemis yang memerlukan tindakan imunisasi.
  14. Ketahui letak rumah sakit atau puskesmas ditempat tujuan Anda untuk berjaga-jaga.
  15. Pastikan anda punya asuransi perjalanan karena tidak semua maskapai mengasuransikan penumpangnya.

BABY MASSAGE

Layanan baby massage merupakan bentuk perawatan dengan menggunakan sentuhan terhadap jaringan otot.

Dengan pemberian stimulasi jaringan otot dan system kerja organ tubuh, massage dapat memberikan jawaban yang di butuhkan bayi (rasa nyaman, terlindungi dan kasih sayang), juga merupakan dasar perkembangan bayi secara fisik maupun psikis sosialnya.

Manfaat Baby Massage antara lain :
1. Meningkatkan berat badan
2. Meningkatkan pertumbuhan
3. Meningkatkan daya tahan tubuh
4. Meningkatkan konsentrasi bayi dan membuat bayi tidur lebih lelap

Klinik Graha Amani melayani Baby Massage dan Baby Spa

Untuk Pendaftaran bisa melalui SMS, BBM, atau tlp. SMS 082231212140 / Tlp 031-7871434 / Bbm 52803247

Apakah Ibu Hamil Naik Pesawat Dapat Menyebabkan Keguguran ?

Apakah Ibu Hamil Naik Pesawat dapat Menyebabkan Keguguran ? Ini adalah pertanyaan yang sering kita jumpai di masyarakat luas. Banyak hal yang memang perlu diperhatikan bagi seorang ibu hamil yang akan naik pesawat. Menurut American College of Obstetrician and Gynecologist (ACOG), suatu organisasi dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Amerika Serikat, perjalanan sesekali dengan pesawat terbang telah dinyatakan aman bagi seorang wanita dengan usia kehamilan di bawah 36 minggu, dengan syarat tidak memiliki komplikasi di saat hamil atau penyakit penyerta lainnya.
Sumber terpercaya lain adalah dari International Air Transports Association (IATA), sebuah organisasi perdagangan internasional yang terdiri dari maskapai-maskapai penerbangan ternama di dunia. Peraturan dari IATA mengenai kriteria ibu hamil yang diperbolehkan terbang dipertimbangkan dari riwayat kesehatan dan kehamilan sebelumnya, jumlah janin yang dikandung, dan umur kehamilan. Wanita dengan hamil tunggal (hanya 1 janin yang dikandung) tanpa komplikasi diperbolehkan untuk terbang hingga usia kehamilan 36-38 minggu, asal waktu penerbangan tidak lebih dari 4 jam.
Walaupun oleh IATA diperbolehkan hingga 38 minggu, ACOG menyarankan para ibu hamil untuk tidak melakukan perjalanan udara setelah usia kehamilan 36 minggu. Hal ini untuk menghindari jika ada kesalahan dalam perhitungan hari perkiraan kelahiran atau persalinan yang dimulai sebelum harinya.
Komplikasi yang dimaksud adalah komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan itu sendiri maupun keadaan kesehatan calon ibu yang berisiko tinggi sehingga disarankan tidak melakukan perjalanan udara. Yang dimaksud antara lain :

  1. Risiko kelahiran prematur.
  2. Kelainan plasenta.
  3. Tekanan darah atau kadar gula darah yang tidak terkendali.
  4. Penyakit jantung dan pembuluh darah.

Masalah yang dihadapi oleh ibu hamil dalam perjalanan udara dapat berbeda-beda sesuai dengan umur kehamilannya.
Bila umur kehamilannya masih muda atau dalam trimester awal (sampai 12 minggu), masalah yang dihadapi adalah gejala kehamilan seperti morning sickness yang dapat bertambah parah. Akan lebih baik bila membawa kantong plastik ekstra di kabin untuk berjaga-jaga. Demikian pula dengan keluhan hidung tersumbat atau sinusitis ringan, di ketinggian jelajah pesawat terbang, keluhan tersebut dapat bertambah parah.
Dalam umur kehamilan trimester ke-2, bepergian dengan pesawat terbang dirasa paling nyaman. Gejala morning sickness dan risiko keguguran sudah berkurang, dan risiko untuk kelahiran prematur sangat rendah dalam rentang usia kehamilan ini.
Terbang pada umur kehamilan trimester ke-3 masih dikatakan aman selama tidak terlalu dekat dengan hari perkiraan lahir. Namun kemungkinan terjadi kelahiran prematur perlu dipertimbangkan, apalagi bila didapatkan faktor risiko terjadi kelahiran prematur. Sebaiknya ibu hamil yang hendak terbang dalam umur kehamilan trimester ke-3 membawa serta riwayat kesehatan kehamilannya dan diharapkan memiliki kontak medis di tempat tujuan.
Bila selama dalam penerbangan dirasakan kontraksi yang semakin lama semakin sering dan sakit, segera beritahu pramugari. Mereka sudah dilatih untuk menangani keadaan gawat darurat, termasuk menangani penumpang hamil yang hendak melahirkan. Walaupun ada kemungkinan terdapat dokter (atau lebih bagus lagi spesialis kebidanan dan kandungan) yang ikut serta dalam penerbangan dan dapat membantu proses kelahiran, ada kemungkinan pula pesawat melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat untuk memastikan ibu yang hendak melahirkan mendapat pertolongan medis yang dibutuhkan.
Hal penting yang juga perlu diperhatikan tanpa memandang umur kehamilan adalah masalah yang berkaitan dengan sirkulasi peredaran darah. Kehamilan sendiri dapat menyebabkan masalah sirkulasi pada setiap wanita, sehingga posisi duduk lama dalam penerbangan dapat meningkatkan risiko pembentukan darah menggumpal (blood clot), yang dapat menjadi fatal.
Selain itu, keamanan yang berhubungan dengan tekanan dalam kabin juga perlu diperhatikan. Saat ini, semua penerbangan komersial telah mengatur tekanan dalam kabin yang setara dengan ketinggian jelajah 5.000 – 8.000 kaki. Untuk ibu hamil yang berasal dari dataran rendah, perubahan ini dapat mempengaruhi kerja tubuh, yaitu peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Untuk sebagian besar ibu hamildengan kesehatan cukup, hal ini tidak menyebabkan masalah. Tapi, bila ada riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah, perubahan ini dapat mengakibatkan masalah serius, sehingga tidak dianjurkan bagi mereka untuk melakukan perjalanan udara.
Berapa pun umur kehamilan yang sedang berjalan saat ini, akan lebih bijaksana bila rencana berpergian dengan pesawat telah didiskusikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan yang berkompeten untuk mengeluarkan pernyataan sang calon ibu aman untuk naik pesawat. Akan lebih bagus pernyataan tersebut disertai dengan surat keterangan tertulis dari dokter yang telah memeriksa, terutama bila umur kehamilan sudah berada dalam trimester ke-3 (lebih dari 28 minggu).

Kenali Ca Cerviks Sejak Dini

Ca Cerviks atau kanker serviks merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan ditakuti oleh kaum wanita. Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada leher rahim, yang diakibatkan tidak normalnya pertumbuhan sel pada jaringan serviks atau bagian terbawah dari rahim yang menonjol ke arah organ genital wanita (vagina). Serviks sendiri yaitu organ penghubung uterus dengan vagina.

Kanker serviks tidak menular. Orang yang melakukan kontak langsung dengan pasien kanker serviks, tidak akan terjangkit kanker tersebut. Namun perlu kita ketahui, virus penyebab terjadinya kanker serviks yaitu HPV (human papiloma virus) dapat menularkan.

Pada umumnya, kaum wanita tidak mengerti tanda-tanda terkena kanker serviks. Karena kurangnya pemahaman akan penyakit ini, menyebabkan kaum wanita baru menyadari telah terkena kanker setelah stadium lanjut. Padahal banyak tanda yang muncul di saat penyakit ini menyerang.

Lalu, apa saja gejala atau tanda-tanda seseorang terkena kanker serviks? Berikut ini gejala awal yang dapat dilihat dan perlu diperhatikan :

  1. Rasa nyeri yang terjadi pada mulut rahim. Nyeri ini memang tidak sering muncul, namun bila penyakitnya semakin parah rasa sakit tersebut akan sangat terasa. Apabila mulai merasakan mulut rahim terasa sakit, lebih baik bunda memeriksakan diri ke dokter. Rasa sakit ini diakibatkan oleh virus human papiloma yang mulai mengerogoti sel dan jaringan pada mulut rahim
  2. Tanda lain yang perlu diperhatikan yaitu rasa nyeri pada saat berhubungan intim dengan suami. Rasa nyeri yang tidak seperti biasanya dan cenderung perih. Dalam beberapa kasus, ada wanita yang mengeluarkan darah pada saat berhubungan intim.
  3. Keputihan patogonis. Keputihan merupakan gejala awal kanker serviks. Seperti yang telah kita ketahui, sebagian besar kaum wanita pernah mengalami keputihan. Sehingga hal ini dianggap wajar. Meskipun begitu, kita harus tetap waspada jika cairan yang keluar banyak, kental, bau anyir, berwarna tidak normal (kekuning-kuningan, kecoklatan atau kehijauan) dan rasa panas disertai gatal pada area intim saat keputihan. Hal ini bisa merupakan gejala awal kanker serviks.
  4. Nyeri pada beberapa bagian tubuh dekat organ intim. Berkembangnya virus pada mulut rahim dapat menimbulkan rasa nyeri di beberapa bagian tubuh lainnya seperti perut bagian bawah, pinggang, paha dan panggul. Terutama ketika sedang menstruasi, saat buang air besar dan ketika berhubungan intim. Setiap menyentuh leher rahim, akan terasa nyeri, bahkan beberapa wanita mengalami gejala mual-mual.
  5. Pendarahan. Pendarahan selalu dikaitkan dengan menstruasi, dan dianggap sebagai akibat menstruasi yang tidak teratur. Sebetulnya, bila hal ini terjadi, kita harus curiga dengan keadaan ini dan sesegera mungkin memeriksakan ke dokter, agar mendapat informasi yang jelas.
  6. Nafsu makan berkurang. Penurunan nafsu makan juga merupakan tanda atau gejala awal kanker serviks. Nafsu makan yang berkurang mengakibatkan sistem imun tidak mampu menangkal virus penyakit dari luar tubuh. Selanjutnya akan mengakibatkan stress, cepat lelah, kecemasan berlebih dan berkurangnya energi atau stamina.
  7. Kaki bengkak. Bila mengalami kaki bengkak tanpa diketahui penyebab yang pasti, boleh jadi itu merupakan reaksi dari berkembangnya virus HPV yang bersarang pada area kewanitaan.

 

Setelah mengetahui gejala awal yang ditimbulkan akibat kanker serviks ini, kita juga harus mengetahui upaya apa saja yang dapat mencegah terjadinya kanker serviks. Berikut ini, pengetahuan yang harus kita ketahui mengenai langkah pencegahan kanker serviks.

  • Melakukan test papsmear secara berkala.

Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui  berapa besar resiko terjangkitnya kanker serviks. Dengan melakukan tes ini,maka upaya pencegahan dapat segera dilakukan secepat mungkin. Tes papsmeas ini dilakukan secara rutin, biasanya setahun tiga kali pemeriksaan.

Melakukan vaksinasi sangat berguna untuk mencegah datangnya infeksi. Vaksin HVP ini dapat diperoleh di dokter.

  • Tidak berganti-ganti pasangan.

Berhubungan intim dengan tidak berganti-ganti pasangan dapat menghindari terjangkitnya kanker serviks.

  • Melakukan hubungan intim di usia yang matang. Ada hasil penelitian yang mengungkapkan jika wanita muda yang aktif secara seksual memiliki risiko terkena kanker serviks lebih tinggi.

 

Pengobatan untuk penderita kanker serviks dilakukan oleh para ahli yang telah berpengalaman. Biasanya diberi pilihan operasi yang bertujuan untuk membersihkan lesi kanker dalam dinding rahim. Tingkat keberhasilan dari pengobatan ini cukup besar.

Dari banyak kasus, kanker serviks stadium lanjut akan mendapatkan pengobatan tingkat lanjut yaitu radioterapi. Radioterapi berguna memastikan bahwa tidak ada sel kanker yang tersisa di dalam tubuh.

Kanker serviks memang merupakan penyakit yang sangat ditakuti oleh para wanita. Faktanya setiap dua menit, penderita kanker serviks harus kehilangan nyawa. Tetapi kita juga harus ingat, semua masalah selalu ada jalan keluarnya. Berusahalah untuk bisa sembuh. Hadapi kanker, lakukan pola hidup sehat dan mengkonsumsi makanan yang sehat.

Vaksin Polio Pada Anak

Saat yang paling membahagiakan bagi setiap pasangan adalah ketika buah hati lahir dengan selamat dan sehat. Selanjutnya, agar bayi dapat tumbuh berkembang dengan baik, dibutuhkan perawatan yang khusus dari orang tua. Diantaranya, memberikan nutrisi yang baik serta menjamin kesehatannya.

Bunda, agar bayi sehat dan terbebas dari penyakit, diperlukan beberapa vaksin atau imunisasi untuk melindunginya. Salah satunya dengan pemberian vaksin polio. Vaksin polio merupakan salah satu vaksinasi wajib yang direkomendasikan oleh WHO.

Pemberian vaksin polio diharapkan dapat mencegah infeksi virus polio sebagi penyebab kelumpuhan. Vaksin ini diberikan pada bayi baru lahir sebagai dosis awal. Kemudian diteruskan dengan vaksinasi dasar mulai 2-3 bulan dengan interval waktu 6-8 minggu. Waktu pemberian vaksin polio, biasanya diberikan bersamaan dengan vaksin DPT karena jadwal pemberian vaksin yang bersamaan.

Pada saat anak mendapatkan imunisasi polio, tinja anak akan mengandung virus polio selama 6 minggu setelah pemberian vaksin. Oleh karena itu, bayi harus dijaga kebersihannya. Contohnya, setelah mengganti popok bayi, bunda harus mencuci tangan dengan bersih sebelum menyentuh buah hati.

Vaksin polio itu sendiri terbagi menjadi dua jenis. :

  • Vaksin Polio Oral (OPV) merupakan vaksin tri-valen berbentuk  cairan berwarna kuning kemerahan yang dikemas dalam vial gelas dan mengandung suspense dari tipe 1, 2, dan 3 virus polio hidup (strain sabin) yang telah dilemahkan. Vaksin polio oral ini adalah suspense untuk diteteskan melalui droper (secara oral).
  • Vaksin polio inactivated, yang berarti vaksin ini berisi virus polio yang sudah tidak aktif. Vaksin ini diberikan melalui suntikan. Diberikan sebanyak 3 kali dengan jarak 2 bulan.

Lalu bagaimana dengan efek samping dari vaksin polio ini? Bunda, pemberian vaksin polio ini, pada umumnya tidak terdapat efek samping. Mungkin untuk sebagian kecil, anak akan mengalami gejala pusing, diare ringan atau nyeri otot setelah mendapatkan vaksin.

Diperkirakan terdapat 1 kasus polio yang berkaitan dengan pemberian vaksin polio terjadi pada setiap 2,5 juta dosis OPV yang diberikan. Hal ini dapat dijadikan landasan untuk tidak mengadakan perubahan terhadap kebijakan pemberian vaksin polio. Karena vaksin ini terbukti sangat berguna bagi kesehatan anak.

Dalam kondisi tertentu, vaksin polio tidak dapat diberikan pada anak. Kondisi apa saja yang dimaksud? Bunda, anak kita tidak boleh diberikan vaksin ketika :

  • Anak sedang mengalami demam tinggi diatas 38.5 derajat celcius
  • Anak sedang mendapat pengobatan yang menurunkan kekebalan tubuh
  • Anak menderita kanker atau penyakit hipogamaglobulin
  • Anak sedang mengalami diare atau muntah-muntah
  • Anak yang memiliki riwayat alergi neomisin, polimiksin dan streptomisin

Mengingat kegunaan vaksin ini untuk kesehatan anak, bunda diharapkan tidak melewatkan pemberian vaksin polio untuk ananda tercinta.